Ilmuwan NUS Ciptakan Baju Layar Sentuh yang Fleksibel dan Bisa Dicuci
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4317287/original/096271600_1675837478-parker-burchfield-tvG4WvjgsEY-unsplash.jpg)
Para ilmuwan dari National University of Singapore (NUS) College of Design and Engineering telah berhasil mengembangkan layar sentuh pertama di dunia yang dapat terintegrasi langsung ke dalam kain pakaian. Inovasi ini memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan perangkat digital melalui baju yang mereka kenakan, menghadirkan potensi baru dalam teknologi yang bisa dipakai (wearable technology).
Mengatasi Keterbatasan Teknologi Pakaian Pintar Sebelumnya
Upaya mengintegrasikan fungsi ponsel ke dalam pakaian telah menjadi fokus penelitian selama hampir 15 tahun. Salah satu tonggak awalnya adalah jaket pintar Jacquard, hasil kolaborasi Levi’s dan Google pada tahun 2017. Jaket denim ini dilengkapi sensor sentuh dan umpan balik haptik pada mansetnya, memungkinkan pengguna mengontrol musik atau menerima notifikasi dan panggilan tanpa harus melihat layar ponsel. Namun, menurut laporan Popular Science, sistem input Jacquard yang relatif sederhana membatasi kegunaannya, dan Google akhirnya menghentikan proyek tersebut pada tahun 2023.
Tim peneliti NUS, yang dipimpin oleh Asisten Profesor Tural Khudiyev, melihat bahwa agar pakaian pintar dapat benar-benar menggantikan fungsi ponsel, ia harus mampu berfungsi sebagai layar yang interaktif. Tantangan inilah yang mereka jawab dengan menciptakan layar sentuh fleksibel yang terjalin langsung ke dalam kain.
Teknologi di Balik Kain Interaktif
Inovasi NUS ini dicapai melalui penggunaan serat digital fleksibel yang terdiri dari 54 serat elektronik. Serat-serat ini berfungsi layaknya piksel pada layar digital dan juga mampu mendeteksi sentuhan. Para peneliti menenun serat-serat ini ke bagian lengan baju, menciptakan area seluas sekitar 6,6 x 4,3 inci yang dapat berfungsi sebagai layar sentuh pada lengan bawah pengguna.
Dalam proses pembuatannya, tim harus mengembangkan metode khusus untuk menciptakan titik-titik koneksi yang presisi di sepanjang kawat kecil berisolasi mikro. Mereka menggunakan bantuan sinar laser untuk mengarahkan cairan solder cair, sebuah teknik yang umum dalam pembuatan papan sirkuit, memastikan logam cair merekat hanya pada titik-titik yang diinginkan. Hasilnya adalah benang berlapis setebal satu milimeter yang mengintegrasikan lebih dari 5.000 cip dan 20.000 komponen listrik.
Fungsi dan Kapabilitas
Prototipe baju layar sentuh ini telah diuji dan menunjukkan kemampuan yang menjanjikan. Melalui koneksi Bluetooth ke ponsel, baju ini dapat digunakan untuk menelusuri galeri foto, memutar video dengan kecepatan 30 frame per detik (meskipun kualitas tinggi belum sepenuhnya didukung), dan menjalankan aplikasi seperti kalkulator. Pengguna juga dapat mengetuk pakaian untuk memeriksa notifikasi, menerima gambar, atau memberikan perintah suara.
Setiap serat digitalnya memiliki 96 LED kecil, dan keseluruhan layar mendukung kedalaman warna 8-bit, menghasilkan visual yang disebut mirip dengan permainan arkade dari era 1980-an hingga 1990-an. Selain itu, perangkat ini dilengkapi sensor bawaan yang dapat mengukur suhu tubuh, mendeteksi gerakan, dan menyesuaikan kecerahan layar secara otomatis.
Ketahanan dan Potensi Masa Depan
Salah satu aspek penting dari inovasi ini adalah ketahanannya. Tim peneliti telah menguji baju ini dengan mencucinya di mesin cuci sebanyak 50 kali menggunakan deterjen. Hasilnya, layar dan sensor sentuhnya tetap berfungsi dengan baik tanpa mengalami kerusakan. Pakaian ini juga diklaim memiliki tingkat sirkulasi udara yang setara dengan denim atau katun tebal, sehingga tetap nyaman dan tidak terasa kaku saat dikenakan.
Meskipun performanya saat ini masih serupa dengan ponsel pintar generasi awal, seperti pemutaran video yang sedikit tersendat saat audio disinkronkan, potensi teknologi ini sangat besar. Ke depannya, teknologi ini berpotensi membantu mengalihkan pandangan orang dari layar ponsel, sekaligus berfungsi sebagai alat pemantauan kesehatan pribadi secara real-time dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Perangkat ini juga mendukung sentuhan multi-jari secara simultan, membuka lebih banyak kemungkinan interaksi.
Beberapa tantangan masih perlu diatasi, termasuk metode pengisian daya yang belum sepenuhnya dijelaskan serta durasi operasional perangkat sebelum perlu diisi ulang. Selain itu, pembuatan pakaian pintar semacam ini kemungkinan memerlukan keahlian menjahit khusus agar hasilnya dapat menyerupai ponsel pintar modern. Namun, penemuan NUS ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam mewujudkan masa depan di mana pakaian kita tidak hanya fungsional tetapi juga interaktif.