Riset: Separuh Perusahaan di Asia Pasifik Gagal Penuhi Target Modernisasi IT
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384537/original/018735800_1793175383-IT.jpeg)
Laporan modernisasi global pertama Kyndryl mengungkap fakta menarik sekaligus menantang: hampir separuh atau 49 persen perusahaan di kawasan Asia Pasifik belum berhasil memenuhi target modernisasi teknologi informasi (IT) mereka. Fenomena ini terjadi di tengah arus investasi yang terus mengalir pada platform lama maupun modern, dengan kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama.
Riset tersebut menegaskan bahwa strategi modernisasi IT kini menuntut orkestrasi bisnis yang matang, bukan sekadar konsolidasi teknologi. Temuan ini menyoroti pergeseran fokus, di mana keberhasilan modernisasi sangat bergantung pada integrasi strategis dan pengelolaan yang komprehensif.
AI sebagai Pendorong Utama dan Prioritas Modernisasi
Menurut Megawaty Khie, Vice President & Managing Director untuk ASEAN & Korea di Kyndryl, modernisasi di Asia Pasifik bukan lagi tentang memilih antara berinvestasi pada AI atau memperkuat infrastruktur teknologi yang sudah ada. Sebaliknya, organisasi membutuhkan kedua aspek tersebut secara beriringan, terutama dalam lingkungan teknologi yang semakin terdistribusi.
Laporan Kyndryl yang melibatkan 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi dari lima benua dan 12 industri, dengan 30 persen responden berasal dari Asia Pasifik, menunjukkan bagaimana AI membentuk ulang prioritas investasi dan memicu tantangan baru pada model operasional perusahaan.
Di kawasan ini, prioritas modernisasi bersaing ketat. Peningkatan kinerja, keamanan, serta integrasi teknologi mencatatkan angka 36 persen. Angka yang sama (36 persen) juga ditujukan untuk peningkatan kelincahan, inovasi, dan skalabilitas bisnis, serta peningkatan kendali dan tata kelola. Sementara itu, penerapan kapabilitas AI yang lebih canggih berada di angka 34 persen.
AI terbukti menjadi pendorong utama lonjakan penggunaan dan komputasi . Teknologi ini juga menjadi katalis terbesar kedua untuk ekspansi SaaS () dan , sekaligus alasan utama bagi perusahaan untuk meningkatkan kualitas jaringan dan portofolio aplikasi mereka. Bahkan, seluruh organisasi yang masih mengoperasikan kini berencana menyematkan AI ke dalam platform tersebut.
Hambatan dan Tantangan dalam Modernisasi
Meskipun AI menjadi pendorong signifikan, hambatan masih menghantui. Sebanyak 49 persen organisasi di Asia Pasifik tercatat terlambat mencapai target modernisasi mereka. Kelompok yang menunda proyek ini melaporkan berbagai dampak negatif:
- 44 persen mengeluhkan pembengkakan biaya jangka panjang.
- 43 persen gagal mengadopsi kapabilitas baru secara cepat.
- 38 persen menghadapi kerentanan baru dalam aspek keamanan maupun kepatuhan regulasi.
Untuk mempercepat proses modernisasi, teknologi mulai dilirik. Teknologi ini memiliki kemampuan untuk merencanakan dan mengeksekusi tugas secara mandiri. Meskipun adopsinya masih berada pada tahap awal, dengan hanya 10 persen organisasi di Asia Pasifik yang telah menggunakannya pada fase produksi, diandalkan untuk meredam kerumitan tugas seperti pemetaan dependensi, konversi kode, hingga pembuatan dokumentasi.
Tiga Poin Krusial untuk Masa Depan IT
Studi Kyndryl juga menggarisbawahi tiga poin krusial lainnya yang membentuk lanskap modernisasi IT:
1. Transformasi Lintas Sektoral
Modernisasi telah bergeser dari sekadar urusan teknis IT menjadi keputusan strategis di tingkat dewan direksi. Proses ini kini melibatkan hingga sembilan kelompok pemangku kepentingan, mulai dari CIO (), CTO (), hingga tim keuangan dan kepatuhan.
2. Faktor Geopolitik dan Kedaulatan
Pertimbangan kedaulatan data () semakin mendominasi strategi perusahaan. Menurut laporan Kyndryl, 37 persen organisasi menangani kedaulatan secara selektif saat ada tuntutan eksternal. Ke depannya, 63 persen perusahaan berencana meningkatkan penggunaan dalam satu tahun ke depan, menunjukkan pentingnya kontrol atas data dan infrastruktur di tengah ketidakpastian geopolitik.
3. Kompleksitas Infrastruktur
Temuan riset ini mematahkan asumsi bahwa transformasi digital akan berujung pada satu lingkungan teknologi tunggal. Sebaliknya, kompleksitas infrastruktur meningkat seiring dengan adopsi berbagai platform, yang menuntut koordinasi tata kelola dan ketahanan siber yang jauh lebih terintegrasi.
Secara keseluruhan, laporan Kyndryl menegaskan bahwa modernisasi IT di Asia Pasifik adalah perjalanan kompleks yang memerlukan pendekatan holistik. Hal ini tidak hanya melibatkan investasi teknologi, tetapi juga orkestrasi bisnis yang matang, manajemen risiko yang cermat, dan pemahaman mendalam tentang lanskap geopolitik serta kebutuhan kedaulatan data.