Binance Dibobol Miliaran Dolar, FBI Tuding Peretas Korea Utara Terlibat


Perusahaan aset kripto raksasa, Binance, menjadi korban peretasan skala besar yang mengakibatkan pencurian aset bernilai sekitar 6,3 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) pada 29 Oktober 2026. Insiden ini, yang disebut sebagai pencurian kripto terbesar dalam sejarah, diselidiki oleh Biro Investigasi Federal (FBI) AS yang menuding kelompok peretas terkait Korea Utara, dikenal sebagai TraderTraitor, sebagai pelakunya. Meskipun penyelidikan awal Binance sempat menyoroti kemungkinan akses awal melalui laptop seorang insinyur, perusahaan kini mengakui adanya beberapa titik kompromi yang masih diselidiki.
Pada hari peretasan, Binance segera mengambil tindakan cepat dengan menangguhkan semua penarikan dana untuk mengamankan aset pengguna. Menurut perusahaan analisis blockchain Elliptic, total aset kripto yang dicuri mencapai sekitar 6,43 miliar Dolar AS, menjadikannya insiden pencurian aset kripto terbesar yang pernah tercatat, melampaui pembobolan Bybit pada Februari 2025. Co-CEO Binance, Richard Teng, menggambarkan serangan ini sebagai tindakan yang kompleks, di mana peretas menggunakan malware canggih yang dirancang untuk menghapus jejak aktivitas mereka, menyulitkan proses investigasi awal.
Awalnya, penyelidikan internal Binance menduga serangan dimulai dari penyusupan ke laptop seorang insinyur DevOps. Akses ini diduga memberi celah bagi penyerang untuk menjangkau komponen layanan internal dan memicu transaksi penarikan tanpa otorisasi. Namun, Binance belakangan mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan "titik pelanggaran" tambahan dan menyatakan bahwa rangkaian serangan secara lengkap masih dalam penyelidikan, sehingga insiden ini tidak dapat disimpulkan hanya berasal dari satu laptop. Perusahaan juga belum menemukan bukti kebocoran kunci privat dari dompet aset.
FBI, bersama dengan Secret Service AS dan Divisi Investigasi Kriminal Otoritas Pajak AS (IRS-CI), dengan cepat mengidentifikasi aktivitas peretas sebagai TraderTraitor pada 31 Oktober 2026. Kelompok ini telah lama dikaitkan oleh peneliti keamanan dengan Korea Utara. Penyelidik mengamati pergerakan aset curian, yang dikonversi menjadi Ether (ETH) dan diduga akan dicuci melalui layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi) serta layanan pertukaran instan. FBI juga merilis daftar alamat dompet terkait serangan tersebut dan meminta penyedia layanan aset virtual untuk memblokir transaksi yang berhubungan dengan alamat-alamat tersebut guna menghambat pergerakan dana hasil kejahatan.
Untuk melindungi penggunanya, Binance berkomitmen penuh untuk menanggung semua kerugian. Perusahaan melaporkan bahwa sekitar 95 persen dari nilai aset yang terdampak telah ditutup melalui penggantian menggunakan dana perusahaan. Proses ini melibatkan pembelian token yang dicuri dari pasar atau melalui transaksi over-the-counter (OTC). Sisa sekitar 5 persen aset terdiri dari token dengan likuiditas lebih rendah, yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dibeli. Penting dicatat bahwa penggantian ini dilakukan menggunakan sumber daya perusahaan dan bukan berarti dana yang dicuri telah berhasil direbut kembali dari pelaku.
Secara terpisah, Binance telah bekerja sama dengan mitra industri untuk membekukan sekitar 3 miliar Dolar AS aset di berbagai blockchain. Pembekuan ini membatasi pergerakan aset, namun belum berarti dana tersebut telah dikembalikan kepada Binance. Perusahaan mulai membuka kembali layanan penarikan secara bertahap pada 1 November 2026, dimulai dengan Bitcoin dan sejumlah aset serta jaringan lainnya. Binance menekankan bahwa pemulihan dilakukan per pasangan aset dan jaringan, sehingga pengguna diminta memeriksa status layanan secara berkala. Laporan teknis mendetail (post-mortem) mengenai insiden ini akan diterbitkan setelah investigasi selesai.
Insiden peretasan ini menggarisbawahi ancaman berkelanjutan dari kelompok peretas yang disponsori negara, khususnya dari Korea Utara. Para ahli keamanan, termasuk dari Elliptic dan Chainalysis, telah lama menyoroti bagaimana Korea Utara memanfaatkan peretasan aset kripto untuk mengumpulkan mata uang asing dan mendanai program nuklir serta misilnya di tengah sanksi internasional yang ketat. Metode serangan yang semakin canggih, seperti penggunaan malware penghapus jejak, menunjukkan evolusi taktik peretas dalam upaya mereka menghindari deteksi dan pelacakan.