GoTo Catat Laba Bersih Rp441 Miliar di Kuartal III 2026, Tiga Kuartal Berturut-turut

GoTo Catat Laba Bersih Rp441 Miliar di Kuartal III 2026, Tiga Kuartal Berturut-turut

GoTo Catat Laba Bersih Rp441 Miliar di Kuartal III 2026, Tiga Kuartal Berturut-turut

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menunjukkan performa keuangan yang solid dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp441 miliar pada kuartal ketiga tahun 2026. Pencapaian ini tidak hanya membalikkan kerugian bersih sebesar Rp255 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi juga menandai laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut. Ini mengisyaratkan bahwa perusahaan induk Gojek, Tokopedia, dan GoPay ini semakin menemukan ritme keuangan yang lebih sehat di tengah berbagai tekanan pasar dan operasional.

Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menggarisbawahi pentingnya momen ini. Menurut Hans, keberhasilan mencetak laba bersih tiga kuartal berturut-turut adalah bukti ketahanan dan strategi efektif perusahaan. Ia juga menyampaikan bahwa GoTo menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk tahun 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun. Hans mengakui bahwa kinerja positif ini diraih dalam kondisi yang tidak mudah, termasuk dampak penuh penerapan komisi 8% untuk layanan transportasi roda dua pada kuartal ini.

Kinerja Keuangan Grup GoTo

Secara keseluruhan, kinerja operasional GoTo menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Nilai Transaksi Bruto (GTV) inti perusahaan melonjak 89% secara tahunan, mencapai Rp194 triliun. Pendapatan bersih juga meningkat 17% menjadi Rp5,6 triliun. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan grup tumbuh 84% secara tahunan menjadi Rp950 miliar, angka ini telah memperhitungkan dampak penerapan komisi 8% pada layanan GoRide selama satu kuartal penuh. Arus kas bebas yang disesuaikan perusahaan juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 389% secara tahunan, mencapai Rp1,2 triliun.

Data dari sumber riset Google Search menunjukkan bahwa laba bersih kuartal ketiga ini merupakan kelanjutan dari laba bersih Rp171 miliar pada Q1 2026 dan Rp252 miliar pada Q2 2026, memperkuat tren positif yang sedang berlangsung. Selain itu, jumlah pengguna aktif bertransaksi tahunan (ATU) mencapai 72,5 juta, tumbuh 16% dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan peningkatan basis pelanggan yang berkelanjutan.

GoPay Jadi Penopang Utama

Segmen GoPay atau Fintech muncul sebagai kontributor utama dalam kinerja cemerlang GoTo. Jumlah pengguna yang bertransaksi setiap bulannya di GoPay meningkat 26% secara tahunan, mencapai 30,4 juta pengguna. Sejalan dengan itu, jumlah transaksi GoPay melonjak 86% menjadi 2,8 miliar transaksi. Lebih mengesankan lagi, EBITDA yang disesuaikan GoPay meroket 304% menjadi Rp550 miliar, melampaui kontribusi dari segmen On-demand Services. Nilai buku pinjaman GoPay juga mengalami pertumbuhan 51% secara tahunan, mencapai Rp12 triliun.

Berkat performa yang luar biasa ini, GoTo menaikkan target kinerja Fintech untuk tahun 2026 menjadi Rp1,9 triliun hingga Rp2 triliun, dari target sebelumnya Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun. GoPay secara jelas telah menjadi mesin profitabilitas utama bagi GoTo, menegaskan potensi besar di sektor layanan keuangan digital.

Layanan On-demand: Pertumbuhan di Tengah Tantangan

Pada segmen On-demand Services (ODS) atau Gojek, jumlah pesanan yang diselesaikan meningkat 9% secara tahunan, didorong oleh strategi perusahaan untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Namun, Nilai Transaksi Bruto (GTV) segmen ini hanya tumbuh 1% menjadi Rp16,9 triliun. Pertumbuhan GTV yang lebih rendah ini sebagian besar disebabkan oleh nilai pesanan produk di segmen pasar massal yang cenderung lebih rendah, serta penyesuaian harga GoRide sebagai dampak dari penerapan komisi 8%.

EBITDA yang disesuaikan untuk segmen ODS ini naik tipis 3% menjadi Rp347 miliar. Meskipun demikian, kinerja Mobility dalam ODS menghadapi tekanan. EBITDA yang disesuaikan Mobility turun 16% menjadi Rp159 miliar, dengan margin yang tergerus 50 basis poin (0,5%) menjadi 2,5%. Dampak komisi 8% untuk GoRide diperkirakan sebesar Rp150 miliar pada kuartal ini. Sebaliknya, layanan Delivery menunjukkan kekuatan dengan EBITDA yang disesuaikan naik 20% menjadi Rp227 miliar.

Langkah Strategis untuk Pemegang Saham

Selain pencapaian operasional, GoTo juga mengambil langkah-langkah signifikan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang sahamnya. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada 14 Oktober 2026, pemegang saham menyetujui pembatalan sebanyak 32 miliar saham treasuri, yang setara dengan sekitar 2,7% dari total saham beredar perusahaan. Pembatalan ini diharapkan berlaku dalam dua hingga tiga bulan setelah seluruh proses regulasi selesai.

GoTo juga aktif melakukan pembelian kembali saham (buyback) sejak Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas harga minimum Rp50 pada 28 September 2026. Hingga 29 Oktober 2026, GoTo telah mengalokasikan dana sebesar Rp985 miliar untuk membeli kembali 36 miliar saham. Perusahaan masih memiliki alokasi dana sebesar Rp2,5 triliun untuk program buyback ini yang berlaku hingga Juni 2027. Hans Patuwo menyatakan bahwa langkah ini diambil karena manajemen GoTo percaya saham perusahaan saat ini menawarkan nilai yang menarik bagi investor.

Antisipasi Regulasi dan Proyeksi ke Depan

Di ranah regulasi, Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang perlindungan ekosistem transportasi berbasis platform digital yang diterbitkan pada Oktober lalu, menegaskan batas komisi 8% untuk layanan transportasi roda dua dan menetapkan mitra pengemudi sebagai pelaku usaha mikro. Untuk layanan pengantaran, GoTo masih menantikan aturan turunan dari Kementerian Komunikasi dan Digital.

Untuk mengantisipasi potensi regulasi tersebut, GoTo telah melebarkan kisaran target On-demand Services (ODS) menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,6 triliun. Dengan pondasi keuangan yang semakin kokoh, didorong oleh pertumbuhan GoPay dan langkah-langkah strategis pro-pemegang saham, GoTo menatap masa depan dengan optimisme, siap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di ekosistem digital Indonesia.

Bagikan