CEO Nvidia Diduga Jadi Target Mata-Mata China, Apa yang Diincar?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4844377/original/058934100_1716818807-960x0.jpg)
Jensen Huang, CEO Nvidia, sebuah raksasa semikonduktor global, dilaporkan menjadi target operasi intelijen Tiongkok. Laporan ini, yang diungkap oleh investigasi The New York Times dan didasarkan pada temuan badan intelijen Amerika Serikat (AS), menyoroti seorang eksekutif perusahaan pusat data di Singapura bernama Alice Huang. Ia diduga mengumpulkan informasi untuk pemerintah Beijing dan memiliki hubungan dekat dengan Jensen Huang, memicu kekhawatiran serius di kalangan intelijen AS.
Dugaan Intelijen di Balik Operasi
Menurut penyelidikan intelijen AS, Alice Huang, yang juga dikenal sebagai Huang Le dan merupakan warga negara Tiongkok, diyakini sebagai aset intelijen Tiongkok. Ia menjabat sebagai eksekutif di Megaspeed, sebuah perusahaan pusat data yang berbasis di Singapura. Megaspeed sendiri sebelumnya telah berada di bawah pengawasan otoritas AS karena dicurigai terlibat dalam upaya penyelundupan chip AI Nvidia canggih dari Singapura ke Tiongkok, dengan tujuan menghindari pembatasan ekspor yang diberlakukan AS.
Laporan intelijen menyebutkan bahwa anak perusahaan Megaspeed di Malaysia diketahui telah membeli peralatan AI berbasis Nvidia senilai setidaknya 4,8 miliar dolar AS antara Juni 2024 hingga Februari 2026. Pembelian dalam skala besar ini, di tengah ketatnya kontrol ekspor AS, semakin menambah bobot kecurigaan otoritas.
Hubungan Dekat dan Kekhawatiran Intelijen AS
Meski memiliki nama belakang yang sama, Jensen Huang dan Alice Huang tidak memiliki hubungan keluarga. Namun, badan intelijen AS menemukan adanya kedekatan yang tidak biasa antara keduanya. Foto-foto yang beredar, termasuk yang diunggah di LinkedIn pada 2024 dan pada acara informal sekitar Computex 2025 di Taipei, menunjukkan Alice Huang berada dalam jarak dekat dengan Jensen Huang. Kedekatan ini memicu kekhawatiran bahwa Alice berpotensi memanfaatkan hubungannya untuk memperoleh informasi penting mengenai Nvidia, termasuk rahasia dagang atau informasi yang berkaitan dengan keamanan nasional.
Ironisnya, selama pengawasan intelijen berlangsung, Jensen Huang dilaporkan belum menerima peringatan langsung mengenai potensi ancaman intelijen asing tersebut. Nvidia juga menyatakan bahwa mereka belum menerima informasi resmi mengenai dugaan aktivitas Alice Huang.
Konteks Pembatasan Ekspor Teknologi AI AS
Dugaan spionase ini muncul di tengah ketegangan geopolitik dan persaingan sengit antara AS dan Tiongkok di bidang kecerdasan buatan (AI). Sejak Oktober 2022, pemerintah AS telah memberlakukan kontrol ekspor yang signifikan terhadap semikonduktor canggih dan teknologi AI ke Tiongkok, yang diperluas pada 2023 dan 2024. Kebijakan ini bertujuan untuk membatasi kemampuan Tiongkok dalam mengembangkan teknologi AI canggih, terutama karena kekhawatiran bahwa teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer atau strategis Tiongkok.
Dalam konteks ini, Megaspeed dikenal sebagai mitra cloud Nvidia yang membangun pusat data dan menyewakan komputasi kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok seperti Alibaba. Ini menempatkannya pada posisi yang rentan terhadap tuduhan pelanggaran kontrol ekspor.
Bantahan dari Nvidia dan Tiongkok
Menanggapi laporan tersebut, Nvidia melalui juru bicaranya, John Rizzo, membantah beberapa klaim yang diajukan oleh The New York Times, terutama dugaan keterlibatan Megaspeed dalam pengalihan chip AI ke Tiongkok. Rizzo menyatakan bahwa penyelidikan internal Nvidia pada tahun 2025 menyimpulkan tuduhan terhadap Megaspeed tidak berdasar. Ia juga menjelaskan bahwa interaksi Jensen Huang dengan Alice Huang adalah bagian dari kegiatan bisnis biasa, mengingat seorang CEO sering bertemu dengan eksekutif perusahaan pelanggan. Nvidia menegaskan bahwa Megaspeed hanya menerima informasi bisnis umum, bukan rahasia dagang Nvidia atau informasi terkait keamanan nasional. Jensen Huang secara pribadi juga menyatakan bahwa interaksi Nvidia dengan Megaspeed "sepenuhnya normal, tidak ada yang aneh."
Sementara itu, Kedutaan Besar Tiongkok di Washington menolak tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai "fitnah dan tuduhan tak berdasar." Gedung Putih, CIA, dan NSA menolak memberikan komentar mengenai masalah ini kepada The New York Times.
Implikasi dan Reaksi
Kasus dugaan pengalihan chip Megaspeed telah dialihkan ke Departemen Kehakiman AS pada awal 2026. Laporan ini juga mengungkapkan bahwa mantan Presiden AS, Donald Trump, telah diberitahu tentang temuan intelijen mengenai Alice Huang sekitar Oktober 2025, tetapi memilih untuk tidak mengambil tindakan. Jensen Huang sendiri dikenal sebagai sekutu dan penasihat teknologi terkemuka bagi Trump, dan pernah berhasil melobi pemerintahannya untuk melonggarkan peraturan pada perusahaan AI serta membatalkan pembatasan yang lebih ketat pada penjualan chip Nvidia ke Tiongkok.
Namun, efektivitas kontrol ekspor AS menjadi perdebatan. Beberapa pihak berpendapat bahwa pembatasan ini telah menyebabkan pangsa pasar Nvidia di Tiongkok merosot tajam, dari 66% menjadi hampir nol, digantikan oleh produsen Tiongkok seperti Huawei. Senator Elizabeth Warren juga telah menuntut Jensen Huang dan dewan direksi Nvidia untuk memberikan jawaban kepada Kongres mengenai laporan intelijen ini, menunjukkan bahwa isu ini masih akan terus bergulir di ranah politik dan teknologi.